Pasti kamu pernah
berada dalam kondisi tertekan, takut, dan bersedih. Berbagai masalah tak
kunjung selesai, berbagai penderitaan tak pernah berhenti. Menghadapi kondisi
seperti ini, Allah berpesan, La takhaf wa la tahzan ( jangan takut dan jangan
bersedih ). Namun, bisahkah kita? Benarkah kesedihan itulah justru sumber
kebahagiaan kita? Bisakah kita tidak takut dan tidak bersedih? Pasti bisa.
Entah
kenapa waktu aku sedih, kecewa, mau
nangis , baca buku ini lega banget rasanya,
Hehee. Setelah berkali-kali baca buku ini
terutama saat hati galau aku sadar
rasanya gak pantes banget aku
sedih hanya karena masalah yang mungkin tidak terlalu penting untuk saat ini (apa
belum terlalu penting yaa?) hehe gak tau deh,
masalah yang gak
ada apa-apanya. Banyak kalimat-kalimat
motivatif yang membuat aku tersadar dan merenungkan setiap maknanya :
- Berhentilah
sejenak, dengarkan adzan dengarkan seruan ajaibnya Hayya’ alal falah (mari
meraih kebahagiaan) melalui shalat. Di tengah kesibukan yang membuat kita
seperti kelinci yang sedang mengejar-ngejar wortel yang digantung di depan mata
kita, berhenti sejenak amatlah penting. Shalat adalah menciptakan waktu luang
diantara deru kesibukan yang membuat kita lupa diri. Dengarkan dengan khidmat
“Mari menuju kebahagiaan!” Lalu bisikkanlah, “ Aku mau ya Allah, aku datang
kepadaMu".
- Semua ada waktunya bertindaklah perlahan
seperti matahari yang tidak pernah lebih cepat terbit atau tenggelam. Apabila
matahari terbit lebih cepat , bencana akibatnya . Begitu pun jika kita sukses
terlalu cepat, niscaya ada bencana yang muncul, walaupun kita tidak
menyadarinya.
- Hendaklah
kamu puas dengan apa yang telah Allah bagikan untuk kamu, kamu akan menjadi
manusia yang paling kaya dengan banyak
bersyukur.
- Pertolongan
Allah amatlah dekat. Akan tetapi, Allah sendiri yang menjanjikan dan menentukan
saatnya. Dia tidak akan menyegerakan bantuanNya hanya karena ketergesaan hamba.
- Kekayaan
tidak dapat menjamin kebahagiaan.
- Jangan
pernah melamun, tetaplah ada yang diingat karena begitu engkau melamun, jin-jin iseng
akan mengambil alih kesadaran.
- Di
hari kiamat , manusia dibangkitkan di padang Mahsyar. Ketika Allah
membangkitkan seorang mukmin, dibnagkitkan pula seseorang seperti dia. Orang
itu berjalan di depan dia, seraya membimbing. Ketika ada hal yang menakutkan
kawannya mententramkannya, ketika ada hal yang menyedihkan kawannya
menghiburnya. Pada
akhir pengadilan ia mendengar keputusan masuklah ia ke surga, kawannya
mengantar menuju tempat kebahagiaan. Mukmin terpesona dengan pembelaan kawannya
dan bertanya “Siapakah kamu?” orang itu berkata “ Dahulu di dunia , setiap kali
kamu mamasukkan rasa bahagia kepada sesama manusia, Allah menciptakan makhluk
sepertiku untuk memberikan kebahagiaan pada hari ini”.
- Jangan
bersedih karena segala kesusahan adalah cara Allah agar kita tambah dewasa,
tambah kuat, dan tambah menghargai hidup.
- Jika
ingin hidup bahagia, puaslah dengan yang telah diberikan Allah.semua orang
sukses mempunyai rumus yang sama. “ terimalah dengan lapang dada anugerah yang
diberikan meskipun belum memenuhi harapan. Terimalah, tanpa merasa kekurangan”.
- Tidak
ada alasan untuk bersedih, tetap ridholah dengan bagian yang diberikan Allah. That’s all.. so touched..
Dari sini aku belajar
untuk memahami dan
menghayati kesedihan, dan
kemudian membalikkannya menjadi jalan kebahagiaan.
So, kenapa harus
bersedih? La Tahzan innallaha ma'ana :) :)


